Selasa, 17 Desember 2013

Study Tour Ke Museum - Museum Di Bogor

Pada pertengahan Desember lalu, sekolah saya SMPN 2 Bogor mengadakan Study Tour ke Bandung, namun dikarenakan suatu hal saya tidak dapat mengikutinya. Sehingga saya diharuskan untuk mengunjungi salah satu museum yang berada di Kota Bogor.Saya mengunjungi 3 museum, yaitu Museum Perjoangan Bogor, Museum PETA (Pembela Tanah Air), dan Museum Etnobotani. Banyak beraneka ragam benda - benda bersejarah yang terdapat di museum. Dengan benda bersejarah tersubut, kita dapat mengetahui kejadian sejarah di masa lampau.

 1. Museum Perjoangan Bogor


                                        




                                    
           Berikut benda - benda bersejarah yang dapat kita temukan di museum ini :






Kapten Tubagus Muslihat lahir di Pandeglang pada tanggal 25 September 1925.Kapten Muslihat menghembuskan nafas terakhirnya setelah melakukan penyerangan ke kantor polisi yanh terletak di Jl. Banten ( sekarang Jl.Kapten Muslihat ) pada tanggal 25 Desember 1945.




Ini adalah mesin tik dan telepon yang digunakan pada zaman Revolusi Fisik di Bogor.





Selain benda - benda bersejarah, kita juga dapat menemukan beberapa pakaian yang dikenakan pada masa bersejarah. Salah satunya adalah seragam yang digunakan para relawan PMI pada masa Refolusi Fisik di Bogor.

 2. Museum PETA ( Pembela Tanah Air )



Monumen ini  pertama diletakan oleh Bapak Umar Wirahadikusumah ( mantan Wakil Presiden RI ke- 4 ) pada tanggal 14 November 1993. Dan diresmikan pada tanggal 18 Desember 1995 dengan tujuan untuk memberikan penghargaan kepada para tentara PETA yang telah tiada dan untuk memberikan gambaran perjuangan kemerdekaan Indonesia.




Sejarah Singkat Tentara Pembela Tanah Air ( PETA ) 

PETA dibentuk tanggal 3 Oktober 1943, atas usul Gatot Mangkupraja. Tentara PETA bertugas menjaga daerahnya masing-masing.Namun, kekejaman tentara Jepang terhadap rakyat Indonesia membuat tentara PETA memberontak. Akhirnya, badan-badan kemiliteran yang dibentuk Jepang dimanfaatkan untuk melawan Jepang. Latihan militer yang diberikan sangat besar manfaatnya bagi bangsa Indonesia.

Pendirian PETA didasarkan pada maklumat Osamu Seirei Nomor 44 yang diumumkan oleh Panglima Tentara ke-16, Letnan Jenderal Kumakichi Harada.


Osamu Seirei No 44, 3 Oktober 1943 berisikan mengenai Pembentukan Pasukan Sukarela untuk membela Pulau Jawa dengan status :
  • Tentara Pembela Tanah Air (PETA), terdiri dari warga negara yang asli.
  • Tentara Pembela Tanah Air (PETA), dilatih oleh tentara Jepang.
  • Tentara Pembela Tanah Air (PETA), bukan milik organisasi manapun, langsung dibawah Panglima Tentara Jepang.
  • Tentara Pembela Tanah Air (PETA), sebagai tentara teritorial yang berkewajiban mempertahankan wilayahnya (syuu).
  • Tentara Pembela Tanah Air (PETA), siap melawan sekutu.
Perhatian dan minat dari para pemuda Indonesia ternyata sangat besar, terutama para pemuda yang telah mendapatkan pendidikan di sekolah menengah dan yang telah bergabung dengan Seinendan. Di dalam PETA terdapat Lima macam tingkat kepangkatan, yaitu :
  • Daidanco (komandan batalyon), dipilih dari tokoh-tokoh masyarakat seperti pegawai pemerintah, pemimpin agama, pamongraja, politikus, dan penegak hukum.
  • Cudanco (komandan kompi), dipilih dari kalangan yang sudah memiliki pekerjaan namun masih belum mencapai pangkat yang tinggi, seperti guru dan juru tulis.
  • Shodanco (komandan peleton), dipilih dari kalangan pelajar sekolah lanjutan pertama atau sekolah lanjutan atas.
  • Budanco (komandan regu), dipilih dari kalangan pemuda yang pernah bersekolah dasar.
  • Giyuhei (prajurit sukarela) dari kalangan pemuda yang belum pernah mengenyam pendidikan.
Beberapa peristiwa penting yang pernah dilakukan tentara PETA  :
  • Sebelum proklamasi melakukan pengamanan Dwi Tunggal ( Soekarno - Hatta ) pada tanggal 16 Agustus 1945 ke Rengasdengklok unyuk menghindari perbedaan pendapat antara golongan tua dengan golongan muda tentang pelaksanaan Proklamsi Kemerdekaan Indonesia, karena di Jakarta diisukan akan terjadi Revolusi
  • Pada saat Proklamasi :
    a. Mengamankan wilayah proklamasi dipimpin oleh Daidancho Abdul Kadir.
    b. Mengibarkan bendera merah putih oleh Chudancho Latief Hendradiningrat.
    c. Menjaga telepon oleh Syodancho Arifin Abdurahman.
Pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, berdasarkan perjanjian kapitulasi Jepang dengan blok Sekutu, Tentara Kekaisaran Jepang memerintahkan para daidan batalion PETA untuk menyerah dan menyerahkan senjata mereka, dimana sebagian besar dari mereka mematuhinya. Soekarno yang saat itu baru menjabat sebagai presiden mendukung pembubaran ini ketimbang mengubah PETA menjadi tentara nasional, karena tuduhan blok Sekutu bahwa Indonesia yang baru lahir adalah kolaborator Kekaisaran Jepang bila ia memperbolehkan milisi yang diciptakan Jepang ini untuk dilanjutkan. Pada tanggal 19 Agustus 1945, panglima terakhir Tentara Ke-16 di Jawa, Letnan Jendral Nagano Yuichiro, mengucapkan pidato perpisahan pada para anggota kesatuanPETA (Pembela Tanah Air).
 3. Museum Etnobotani

Gagasan pendirian Museum Etnobotani Indonesia mula-mula dicetuskan oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo yang ketika itu menjabat sebagai ketua LIPI, bertepatan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung baru Herbarium Bogoriense pada tahun 1962. Tetapi gagasan tersebut baru mulai dipikirkan serta dimantapkan kembali ketika Dr.Setijati Sastrapradja memegang jabatan Direktur LBN pada tahun 1973. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya museum tersebut dapat terwujud dan diresmikan pada tanggal 18 Mei 1982 oleh Menristek Prof.Dr.Ing.B.J.Habibie. Tema Museum Etnobotani Indonesia yaitu : " Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia "

Etnobotani adalah cabang ilmu tumbuh-tumbuhan yang mempelajari hubungan antara suku-suku asli suatu daerah dengan tumbuhan yang ada di sekitarnya. Istilah etnobotani pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli antropologi Amerika bernama Harsberger pada tahun 1895. Dari aspek botani, etnobotani dapat memberi bantuan dalam penentuan asal mula suatu tumbuhan, penyebarannya, penggalian potensi tumbuhan sebagai sumber kebutuhan hidup, makna dan arti tumbuhan dalam kebudayaan serta tanggapan masyarakat setempat terhadap suatu jenis tumbuhan.Pesatnya perkembangan teknologi modern memungkinkan mudahnya hubungan antar pulau di Indonesia, bahkan antar negara di dunia. Teknologi modern ini sering kali dapat mempengaruhi kehidupan dan kebudayaan suku-suku bangsa di Indonesia. Sebagai akibatnya pengetahuan tradisional tentang tetumbuhan mengalami erosi, sehingga dirasakan perlu untuk mempelajari dan mendokumentasikan yang masih tertinggal. Oleh karena itu didirikanlah Museum Etnobotani.

Berikut adalah beberapa alat - alat tradisional yang digunakan pada zaman dahulu :